Saturday, July 29, 2006

POM Bensin Punya Cerita

Kemaren siang aku baca berita di Kompas, tentang disegelnya SPBU yang minyak dagangannya tercampur dengan solar. Sementara ini, masih belum terbukti, disengaja atau tidak pencampuran itu.

Setelah baca, iseng aku search dengan keyword SPBU, dan mendapatkan beberapa link, termasuk link berita dengan judul Puluhan SPBU curang. Sudah lama sih beritanya, bulan Mei, tapi tetap saja menarik.

Aku jadi ingat, dulu di era 80an Bapak sering mengajak jalan naik mobil Civic '78 oranye-nya. Kita jalan berdua saja, atau sekeluarga. Jalan ke rumah saudara di luar kota, atau hanya jalan-jalan muter-muter buang bensin aja. Di tahun itu kalo nggak salah satu liter premium masih sekitar Rp. 450 rupiah.

Pada saat bensin mobil menipis dan masuk ke pom bensin, biasanya aku dan ibu akan sport jantung. Kenapa ? Bapakku itu orangnya tegas dan keras, dan paling anti dengan yang namanya kibul mengibul. Dan waktu itu, beliau sering memarahi petugas pom bensin gara-gara meteran yang tidak nol atau tidak pas keluarannya. Di jaman itu, mesin pom bensin masih yang model kuno, dengan meteran manual. Modus operandinya ada beberapa. Ada yang sehabis mengisi motor yang hanya 1 atau 2 liter, langsung mengisi tanki mobil tanpa mereset lagi meterannya, sehingga si pom bensin dapat bonus satu atau dua liter. Ada juga yang pada saat mengisi, baru sampai angka 9, belum sampe nol, prosesnya sudah dihentikan. Ada juga yang memberi kembaliannya sengaja kurang, karena tidak seperti sekarang yang pada saat isi bensin sekian liter bisa ketahuan harganya sekian, jaman dulu ngitungnya masih manual.

Waktu bapak komplain, reaksi si petugas pompa bensin bermacam-macam. Kalo petugasnya sadar (dan takut, tentu saja), dia akan menggenapi kekurangannya. Biasanya ngeyel dulu sebentar, tapi terus nyerah. Ada yang cuek aja, langsung ngeloyor pergi atau pura-pura nggak dengar atau nggak ngeliat. Tapi yang paling berabe, ada yang ngeyelnya keterlaluan. Sudah salah, ngeyel lagi. Biasanya yang seperti ini agak lama ributnya.

Yang paling seru waktu di pom bensin dekat Pabrik Gula Colomadu di pinggiran kota Solo. Baru angka 9.8 kok sudah dicabut pompanya, dan langsung direset ke nol. Wah cari penyakit ini orang....... Bener aja, bapak mulai protes, dan petugas pom bensin itu ngeyel, dengan alasan antrinya banyak, jadi dia langsung reset dan dia tadi melihat sudah genap 10 liter. Eee... lha kok setelah itu justru si petugas yang ngotot-ngotot, tersinggung, mungkin sedang M kali, embuh. Akhirnya adu mulut berakhir setelah bapak menyebut nama Mr. X pemilik pompa bensin tersebut, dan si petugas langsung diam seribu bahasa. Suasananya benar-benar mencekam :D

Bapak pernah cerita kenapa mereka sering mencurangi meteran. Alasannya karena bayaran mereka sebagai petugas pom bensin kecil, sehingga margin antara bensin yang keluar dan jumlah uang yang diterima, akan menjadi 'bonus' bagi mereka hari itu. Cerita ini bukan isapan jempol saja. Karena waktu itu bapak masih menjabat sebagai analis kredit di salah satu bank pemerintah besar, yang beberapa kliennya adalah pemilik pom bensin di sekitar Solo. Sehingga beliau tahu, bagaimana kondisi cash flow di pom bensin. Dan sepertinya pemilik pom bensin sendiri menutup mata akan kegiatan ini, karena malah justru diuntungkan.

Jadi dari sekian puluh tahun yang lalu, praktek seperti ini sebenarnya sudah berlangsung. Pertamanya kecil, tapi lama-lama akhirnya jadi biasa, jadi besar. Seperti pepatah jawa, kriwikan dadi grojogan. Aliran kecil lama-lama menjadi air terjun. Kecurangan kecil dibiarkan, akhirnya ya merajalela.

Sekarang coba ke pasar tradisional. Bisa diitung dengan jari, timbangan yang benar-benar jujur itu ada berapa. Kebanyakan dari mereka akan mengganjal timbangannya dengan paku atau apapun, untuk mencurangi pembeli. Kalau mereka yang jujur, biasanya timbangan tersebut waktu tidak digunakan atau sebelum digunakan, akan dikosongkan dari anak timbangan dulu biar terbukti jujur. Kalo kondisi timbangan selalu ada anak timbangan terpasang diatasnya, boleh dicurigai kalo timbangan itu sudah ditune up :D

Kalo boleh bilang, masalah ini akan jadi lingkaran setan. Saling mencurangi, saling mengurangi timbangan. Penjual bumbu masak dicurangi penjual bensin, penjual bensin dicurangi penjual beras, akhirnya kembali lagi, penjual beras dicurangi penjual bumbu masak. Padahal konon, di dunia ini berlaku hukum kekekalan. Siapa banyak memberi, akan banyak ditolong. Siapa banyak mencatut rejeki orang, akan dicatut juga rejekinya. Yang jelas jauh dari rejeki. memprihatinkan sekali kalau sampai negri ini berisi orang-orang seperti itu.

Trus bagaimana sekarang. Mosok kalo isi bensin bawa takeran sendiri. Beli beras bawa timbangan sendiri. Lha kan repot..... ?! Belum lagi resiko bahwa bensin yang dibeli dicampur minyak tanah, atau beras yang dibeli dicampur krikil.
Jadi gimana ??? ............ Embuh !

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

bola-bali kabeh balik nyang imane dewe2. tukang isi bensin yen imane kuat, gak bakalan korupsi meski mung sak setrip ongko meteran. urip mlarat rapopo angger iman.. luwe rapopo, malah mati wae rapopo angger iman..

semono ugo wong sugih mblegedhu, opo-opo nduwe tapi gak duwe iman, tetep wae korupsi...
kemiskinan iku luwih sering didadekne "kambing hitam" dinggo ngesahne kelakuan koclok poro pelaku maksiyat

2:48 PM  

Post a Comment

<< Home